Gadis kecil Fatma........
Panas terik menyinari sudut Ibu
Kota yang terkenal dengan cuaca panasnya
di kala siang hari,tak lagi ditambah dengan padatnya penduduk.
Terlihat di depan Stasiun
Kereta Api Pasar Senen terdapat dua orang anak kecil dengan pakaian kumuh dan
seadanya. Dengan warna kulit sawo matangnya dan wajah yang terlihat lusuh
bercucuran keringat berusaha untuk melindungi adik nya dengan sehelai
saputangan dari sengatan sinar matahari. Gadis kecil itu bernama Fatma. Fatma
adalah seorang gadis kecil yatim piatu yang kini hidup dengan adiknya yang
masih kecil. Setiap hari ia bekerja sebagai penacri barang bekas demi mencari
sesuap nasi untuk bertahan hidup kadang ia juga mengandalkan belas kasihan
orang-orang untuk memberinya sebuah koin rupiah karena ia memang sudah tidak
mempunyai siapa-siapa lagi.
Pagi buta fatma dan adiknya
bersiap-siap untuk bekerja mencari barang bekas di sekitar pasar dan Stasiun.
Sambil menggendong adiknya Fatma meraih botol minum bekas dengan alat
seadanya,ia kumpulkan satu demi satu hingga memenuhi tempat barang bekas yang
ia bawa. Biasanya perhari ia mendapatkan upah 5000 per kantong nya itupun belum
mencukupi unuk memebeli makan mereka berdua.
“dek tunggu di sini yah kaka
mau ambil botol yang ada di seberang jalan” kata Fatma pada adiknya.
“iyah kaka hati-hati jangan
lama-lama” ucap adiknya
Fatma pun berlari
meninggalkan adiknya sebentar untuk mengambil botol bekas yang ada di seberang
sana.
Saat Fatma kembali ke tempat
adiknya berada tiba-tiba ia melihat adiknya tersungkur jatuh dengan hidung
berlumur darah ia pun panik.
“dek adek kenapa kamu dek
bangun dek!!!” fatma pun panik dengan apa yang terjadi dengan adeknya. Lalu
Fatma berteriak minta tolong.
“tolong...tolong...tolong adik
saya!!!” teriak Fatma sambil terisak minta tolong.
Tak lama kemudian ada seorang
pria yang menghampiri mereka.
“pak tolong adik saya dia
tadi jatuh dan sekarang luka hidungnya berdarah!” dengan suara terbata dan
panik Fatma berusaha untuk meminta bantuan pada warga tersebut. “ayo nak kita
bawa adikmu ke puskesmas terdekat!” adik fatma pun di bawa dengan bantuan
warga.
Saat dokter telah memeriksa
ternyata adik Fatma hanya terkena benturan kecil ia akan segera pulih dan boleh langsung dibawa
pulang.
Terlihat fatma duduk
termenung dengan lamunan yang jauh. Lalu warga tadi menghampirinya. “ada apa
nak kelihatannya kau sedang memikirkan sesuatu??” tanya warga tadi. Dengan
polos Fatma menjawab “saya tidak punya uang ayah dan Ibu saya sudah lama
meninggal saya hanya tinggal dengan adik
saya!”. “ya sudah kalau begitu biar saya yang membayar pengobatan adikmu”. Kata
bapa itu. Lalu Fatma dan adiknya pun meninggalkan Puskesmas itu ia di antar
oleh Bapa tadi yang menolongnya. “kalian tinggal dimana nak?” tanya bapa itu.
Lalu Fatma menjawab. “kami tinggal di dekat pasar Pak,di rumah kardus”. Ketika
mendengar jawaban tersebut Bapa itupun terhentak sangat perihatin pada mereka
berdua. Ketika sampai di tempat tinggal mereka lalu Bapa tadi memberinya
sedikit uang dan banyak makanan untuk Fatma dan adiknya. Fatma pun menerimanya
dengan riang dan gembira.
Pada malam hari ia makan
makanan yang dikasih tadi siang oleh Bapa yang menolong. Dengan lahapnya mereka
memakan makanan yang tidak pernah ia makan sebelumnya. “kak makanan ini enak
sekali aku ingin memakannya semua andai kita bisa memakan ini setiap har!i”
celoteh adiknya dengan mulut yang belepotan karena makanan. Fatma hanya bisa
tersenyum dan mensyukuri apa yang telah ia terima hari ini. Meskipun Fatma
amsih kecil namun ia sudah bekerja dan melakukan segalanya bak seperti orang
dewasa.
Hari-hari seperti biasa ia
melakukan aktivitas untuk mencari uangnya. Tiba-tiba ia terhenti di depan
sebuah sekolah dasar. Ia melihat
anak-anak seumuran dirinya dengan seragam yang rapih dan bersih berbaris
memasuki sekolah. Rasanya ingin sekali Fatma bersekolah layaknya anak-anak
sebayanya,tapi saat setelah orang tuanya tiada maka ia harus berhenti sekolah.
Kini sekolah hanyalah angan semata untuk Fatma seandainya saja ada orang yang perduli
dengannya untuk menyekolahkan dan merawat Fatma beserta adiknya dengan layak
tapi tak ada yang peduli satupun padanya.
Gadis kecil seperti Fatma
yang hidup berdua dengan adiknya dengan menjadi tulang punggung demi menjalani
kehidupannya mencerminkan bagi kita bahwa kita patut mensyukuri apa yang telah
kita dapatkan dan tidak untuk di sia-siakan.
Fatma gadis kecil yang tidak
pantang menyerah untuk menjalani kehidupannya tidak bersekolah juga tidak
bermain dengan anak seusianya. Sekolah hanyalah angan semata baginya namun ia
terus bersemangat dan ingin adiknya menjadi orang yang lebih baik.