Sabtu, 04 Juli 2015



Gadis kecil Fatma........
Panas terik menyinari sudut Ibu Kota yang terkenal dengan cuaca  panasnya di kala siang hari,tak lagi ditambah dengan padatnya penduduk.
Terlihat di depan Stasiun Kereta Api Pasar Senen terdapat dua orang anak kecil dengan pakaian kumuh dan seadanya. Dengan warna kulit sawo matangnya dan wajah yang terlihat lusuh bercucuran keringat berusaha untuk melindungi adik nya dengan sehelai saputangan dari sengatan sinar matahari. Gadis kecil itu bernama Fatma. Fatma adalah seorang gadis kecil yatim piatu yang kini hidup dengan adiknya yang masih kecil. Setiap hari ia bekerja sebagai penacri barang bekas demi mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup kadang ia juga mengandalkan belas kasihan orang-orang untuk memberinya sebuah koin rupiah karena ia memang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.
Pagi buta fatma dan adiknya bersiap-siap untuk bekerja mencari barang bekas di sekitar pasar dan Stasiun. Sambil menggendong adiknya Fatma meraih botol minum bekas dengan alat seadanya,ia kumpulkan satu demi satu hingga memenuhi tempat barang bekas yang ia bawa. Biasanya perhari ia mendapatkan upah 5000 per kantong nya itupun belum mencukupi unuk memebeli makan mereka berdua.
“dek tunggu di sini yah kaka mau ambil botol yang ada di seberang jalan” kata Fatma pada adiknya.
“iyah kaka hati-hati jangan lama-lama” ucap adiknya
Fatma pun berlari meninggalkan adiknya sebentar untuk mengambil botol bekas yang ada di seberang sana.
Saat Fatma kembali ke tempat adiknya berada tiba-tiba ia melihat adiknya tersungkur jatuh dengan hidung berlumur darah ia pun panik.
“dek adek kenapa kamu dek bangun dek!!!” fatma pun panik dengan apa yang terjadi dengan adeknya. Lalu Fatma berteriak minta tolong.
“tolong...tolong...tolong adik saya!!!” teriak Fatma sambil terisak minta tolong.
Tak lama kemudian ada seorang pria yang menghampiri mereka.
“pak tolong adik saya dia tadi jatuh dan sekarang luka hidungnya berdarah!” dengan suara terbata dan panik Fatma berusaha untuk meminta bantuan pada warga tersebut. “ayo nak kita bawa adikmu ke puskesmas terdekat!” adik fatma pun di bawa dengan bantuan warga.
Saat dokter telah memeriksa ternyata adik Fatma hanya terkena benturan kecil  ia akan segera pulih dan boleh langsung dibawa pulang.
Terlihat fatma duduk termenung dengan lamunan yang jauh. Lalu warga tadi menghampirinya. “ada apa nak kelihatannya kau sedang memikirkan sesuatu??” tanya warga tadi. Dengan polos Fatma menjawab “saya tidak punya uang ayah dan Ibu saya sudah lama meninggal  saya hanya tinggal dengan adik saya!”. “ya sudah kalau begitu biar saya yang membayar pengobatan adikmu”. Kata bapa itu. Lalu Fatma dan adiknya pun meninggalkan Puskesmas itu ia di antar oleh Bapa tadi yang menolongnya. “kalian tinggal dimana nak?” tanya bapa itu. Lalu Fatma menjawab. “kami tinggal di dekat pasar Pak,di rumah kardus”. Ketika mendengar jawaban tersebut Bapa itupun terhentak sangat perihatin pada mereka berdua. Ketika sampai di tempat tinggal mereka lalu Bapa tadi memberinya sedikit uang dan banyak makanan untuk Fatma dan adiknya. Fatma pun menerimanya dengan riang dan gembira.
Pada malam hari ia makan makanan yang dikasih tadi siang oleh Bapa yang menolong. Dengan lahapnya mereka memakan makanan yang tidak pernah ia makan sebelumnya. “kak makanan ini enak sekali aku ingin memakannya semua andai kita bisa memakan ini setiap har!i” celoteh adiknya dengan mulut yang belepotan karena makanan. Fatma hanya bisa tersenyum dan mensyukuri apa yang telah ia terima hari ini. Meskipun Fatma amsih kecil namun ia sudah bekerja dan melakukan segalanya bak seperti orang dewasa.
Hari-hari seperti biasa ia melakukan aktivitas untuk mencari uangnya. Tiba-tiba ia terhenti di depan sebuah  sekolah dasar. Ia melihat anak-anak seumuran dirinya dengan seragam yang rapih dan bersih berbaris memasuki sekolah. Rasanya ingin sekali Fatma bersekolah layaknya anak-anak sebayanya,tapi saat setelah orang tuanya tiada maka ia harus berhenti sekolah. Kini sekolah hanyalah angan semata untuk Fatma seandainya saja ada orang yang perduli dengannya untuk menyekolahkan dan merawat Fatma beserta adiknya dengan layak tapi tak ada yang peduli satupun padanya.
Gadis kecil seperti Fatma yang hidup berdua dengan adiknya dengan menjadi tulang punggung demi menjalani kehidupannya mencerminkan bagi kita bahwa kita patut mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dan tidak untuk di sia-siakan.
Fatma gadis kecil yang tidak pantang menyerah untuk menjalani kehidupannya tidak bersekolah juga tidak bermain dengan anak seusianya. Sekolah hanyalah angan semata baginya namun ia terus bersemangat dan ingin adiknya menjadi orang yang lebih baik.